PERUSAHAAN DIBIDANG PERCETAKAN, PHOTOGRAPHY DAN PHOTOCOPY. Hp & Wa 085213145156 - Ig : fauzancentercibitungciater - ig : fauzancentersagalaherang - email: fauzancenter1216@gmail.com
Kamis, 29 Desember 2011
“Tetesan Air”
Suatu hari ada seorang pemuda yang sedang mengelana mencari ilmu dengan berguru kepada seorang guru besar di daerah Arab Saudi. Tekadnya untuk menjadi orang yang berguna bagi keluarga dan masyarakat rasanya sudah sangat bulat sekali. Di daerahnya para pemuda memang biasa dalam melakukan suatu perjalanan untuk mencari ilmu atau merantau ke suatu tempat yang sangat jauh. Tujuannya adalah supaya disaat kepulangannya nanti bisa membawa suatu keterampilan dan menyebarkan pengetahuan kepada masayarakat di tempat tinggalnya.
Pemuda itu merantau dari negeri yang sangat jauh menuju ke daerah gersang yang terkenal dengan panasnya itu. Namun hal itu tidak memutuskan niatnya untuk berguru disana. Ia tahu bahwa daerah itu memang banyak sekali guru-guru besar dan terkenal yang bisa mengangkatnya menjadi orang yang berpengetahuan. Kali ini ia menginginkan untuk mempelajari ilmu filsafat. Ia singgah di suatu tempat perguruan yang sederhana namun peminatnya banyak sekali.
setelah mengikuti tes di perguruan itu, ia ternyata bisa lulus seleksi dari sekian banyak orang yang mendaftar untuk berguru kepada sang maha guru. Namun jumlah murid yang diterima tidak sebanyak yang dibayangkan seperti disekolahan. Hanya ada beberapa murid saja yang diterima. Ia merupakan orang yang ke 5 dari 6 orang yang diterima menjadi murid sang maha guru besar. Tentu saja hal ini sangat membuatnya bahagia. Perjalanannya ke tempat yang membutuhkan waktu yang lama ini tidak sia-sia.
Berlangsunglah proses belajar mengajar dengan sang maha guru besar. Kali ini bukan hal yang sangat gampang untuk belajar filsafat dengan sang maha guru. Pemuda itu hari demi hari merasa sangat sulit untuk memahami apa yang disampaikan oleh maha guru. Melihat kawan-kawannya yang lain, ternyata mereka bisa menankap dengan cerdas dan cepat apa yang disampaikan oleh maha guru. Namun hanya pemuda itulah yang sulit sekali dalam memahami pembelajaran. Selang beberapa tahun kemudian pemuda itupun semakin putus asa dan memilih untuk menyerah saja dari belajar dengan sang maha guru besar yang di inginkannya sekian lama dahulu. Sekarang pemuda itu benar-benar ingin kembali saja ke tempat kelahirannya. Ia merasakan kesulitan yang sangat luar biasa dalam memahami pembelajaran yang disampaikan maha guru.
Pada akhirnya dengan ijin sang maha guru pemuda itupun kembali ke daerah tempat ia tinggal dengan orangtuanya. Diperjalanan ia memikirkan kesulitannya dalam menangkap apa yang disampaikan oleh maha guru. Saat kelelahan mulai menghinggapinya, iapun bermaksud untuk istirahat di sebuah pegunungan yang terdapat mata air yang bersih. Ia berhenti disana untuk melepas lelah dan merasakan segarnya udara pegunungan dan mata air. Dengan lamunannnya yang melayang kesana-kemari, pemuda itu melihat air yang menetes dari saluran air yang digunakan masyarakat sekitar sana untuk menghidupi daerahnya.
Dengan sangat teliti pemuda itu melihat tetesan demi tetesan air jatuh menuju batu yang sangat besar di bawahnya. Ada sesuatu yang ganjil dengan batu besar itu. Terdapat lubang yang cukup besar setelah tetesan air itu jatuh menimpa batu secara terus menerus. Ia semakin tertarik dan terus memperhatikan kejadian yang sangat langka itu. Tanpa sadar ia berkata dalam hatinya”Ah, ternyata setetes demi setetes air bisa mengalahkan batu yang teramat keras dan besar. Dengan terus berkelanjutan menetes, akhirnya batu itupun menyerah menahan timpaan setetes air. Lalu apa yang telah aku lakukan…?”.
Ntah apa yang ada dalam pikirannya, seketika itupun pemuda itu beranjak kembali ke perguruan sang maha guru. Dengan rasa semangatnya yang luar biasa pikirannya berfokus pada pembelajaran yang diberikan maha guru. Sekarang ia yakin, “sesulit apapun pembelajaran yang diberikan maha guru pasti bisa aku fahami dan aku kuasai. Air yang selama ini aku kenal sangat lembut dan tenang ternyata bisa mengikis batu besar yang teramat kuat secara terus menerus”.
Akhirnya pemuda itupun kembali ke perguruan dan melanjutkan pembelajarannya hari demi hari. Dan akhirnya pemuda itu dikenal sebagai ulama besar yang luar biasa keilmuannya terutama keahliannya dalam ilmu filsafat. Ia menjadi seorang maha guru terkenal layaknya sang maha guru yang dikaguminya.
***
Hikmah apa yang bisa kita ambil:
Sahabat,
Dalam proses pencarian ilmu apapun membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Seiring dengan berjalannya waktu, sesulit apapun pembelajaran yang kita hadapi, pasti akan ada kemudahan. Ingatlah Firman Allah dalam Al-quran:
“Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
--(Q.S Al-Insyiroh ayat 5)--
Selayaknya kita menyadari bahwa semua masalah itu pasti ada jalan keluarnya, semua penyakit itu pasti ada obatnya, semua kesulitan itu pasti menemui kemudahannya, semua yang kita anggap mustahil itu akan menjadi kenyataan. Percayalah, hidup ini memang tidak segampang yang kita pikirkan, namun tidak sesulit yang kita pikirkan juga. Artinya, hidup ini bergantung pada diri kita sendiri. Sulit atau mudah, berat atau ringan, sengsara atau bahagia, kita jualah yang menentukan.
Begitupun disaat kita menemui kesulitan dalam belajar, janganlah berputus asa hanya karena sekali kita tidak bisa memahaminya, jangan putus harapan hanya karena dua kali kita tidak bisa menjawabnya, jangan pernah membuang impian hanya karena tiga kali kita tidak bisa menyelesaikannya. Billi P.S Lim mengatakan dalam bukunya Dare to fail, “No failure, only success delayed” (Tidak ada kegagalan, melainkan hanya sukses yang tertunda).
Jangan memberikan pemahaman pada diri kita bahwa kegagalan adalah akhir dari segalanya. Berikanlah pemahaman pada diri sendiri bahwa kegagalan hanyalah ujian hidup bahwa kita ini hidup. Kegagalan hanyalah kesuksesan yang tertunda. Dalam hal ini Socrates pernah bekata: “Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi (unexamined life is not worth living). Hanya ada satu tempat di dunia ini dimana manusia terbebas dari segala macam ujian hidup, yaitu kuburan. Berarti bahwa tanda manusia itu masih hidup adalah ketika dia mengalami ujian, kegagalan, dan penderitaan. Lebih baik kita tahu bagiamana kita gagal daripada tidak tahu mengapa kita berhasil.
Perjuangan, pengorbanan, kepasrahan dan ketekunan akan melahirkan pribadi yang berilmu luar biasa. Pribadi yang akan menghadapi kehidupan ini dengan optimis. Pribadi yang senantiasa berjuang dalam kesulitan. Pribadi yang tidak akan mengenal lelah dalam berikhtiar. Itulah pribadi sahabat-sahabat sekalian yang baik hatinya. Berjuanglah sahabat, optimislah meraih masa depan yang gemilang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar