PERUSAHAAN DIBIDANG PERCETAKAN, PHOTOGRAPHY DAN PHOTOCOPY. Hp & Wa 085213145156 - Ig : fauzancentercibitungciater - ig : fauzancentersagalaherang - email: fauzancenter1216@gmail.com
Kamis, 29 Desember 2011
“Kearifan Segenggam Garam”
Alkisah, hiduplah seorang lelaki tua yang terkenal kesholehannya dan kebijakannya. Disuatu pagi yang dingin seorang lelaki muda sedang dilanda masalah datang. Dengan langkah gontai dan rambut kusut, ia tampak seperti orang yang tak pernah mengenal bahagia. Tanpa menunda waktu, lelaki itu mengungkapkan keresahan dalam hidupnya. Dimulai dengan impiannya yang gagal, karir yang berantakan, cintanya yang lesu, dan kehidupannya yang tidak pernah berakhir bahagia. Dengan seksama dan sangat teliti bapak tua itu mendengarkan. Tanpa berkata apa-apa, pak tua itu mengambil segenggam garam dan memasukannya kedalam segelas air, lalu mengaduknya dan berkata,”Coba minum ini dan bagaimana rasanya??”.
Dan pemuda itupun meminumnya. “Ahhhh,,, asin sekali! Pahit pak!!!”, jawab pemuda tersebut. Pak tua itu hanya tersenyum, lalu mengajak anak muda tersebut berjalan ke tepi telaga yang ada dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Setelah berjalan jauh, akhirnya sampailah mereka ditepi telaga yang tenang dan airnya jernih. Masih dengan mata yang tenang dan penuh cinta, orangtua yang bijak itu menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu diaduknya air telaga yang membuat gelombang dan riak kecil.
Setelah air telaga tenang, ia pun berkata, “Anak muda, coba kamu cicipi air telaga tersebut, dan minumlah,”. Setelah anak muda tersebut meneguk air telaga, pak tua bertanya lagi, “Bagaimana rasanya??”, “Umm… ini baru segar sekali rasa airnya pak tua”, jawab anak muda tersebut.
“Apakah kamu masih merasakan garam di dalam air tersebut?” Tanya pak tua. “Tidak, sepertinya tidak, sedikitpun aku tidak merasakan rasa asin!”.
Mendengar hal itu, dengan bijak pak tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di tepi telaga dan berkata, “Wahai anak muda, pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam. Tidak lebih dan tidak kurang! Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita miliki”.
Kepahitan itu selalu berasal dari bagaimana kita meletakan segalanya. Dan itu tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya satu hal yang boleh kita lakukan yaitu lapangkanlah dada untuk menerima semuanya. Luaskan hati untuk menampung sebuah kepahitan tersebut, luaskan wadah pergaulan supaya kita mempunyai pandangan hidup yang luas. Maka, kita akan banyak belajar dari keleluasaan tersebut. Hati adalah wadah it, perasaan adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hati seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam semua kepahitan itu, dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.
Keduanya lalu bernajak pulang, mereka sama-sama belajar dari hati. Dan pak tua si orang bijak tersebut, kembali menyimpan segenggam garam untuk anak muda yang lain yang sering datang padanya membawa keresahan dan permasalahan dalam hidup. Nah, sahabat, dalam hidup tentunya banyak sekali cobaan yang diberikan, baik itu kesedihan, kegagalan, keresahan, dan lain sebainya, maka berhentilah sejenak dari urusan kita dan merenung, luaskan hati kita bahwa semua masalah yang kita hadapi pasti bisa terpecahkan. Positifkan pikiranmu untuk selalu menerima semua masalah dan belajar memecahkannya.
Selamat berjuang sahabat!!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar