True Story – toentas.com. Bayangkan terlahir tanpa tangan dan kaki. Nick Vujicic sempat ingin bunuh diri. Tapi perlahan dia belajar menerima diri dan berbalik 180 derajat, berusaha berprestasi bahkan menjadi motivator. Sekilas, pemuda Brisbane, Australia, ini tampak seperti sosok tunadaksa biasa. Nick Vujicic tidak memiliki lengan dan kaki. Hanya kaki kiri yang tumbuh, namun mungil dan tak sempurna dengan dua jari. Tapi dari sorot wajahnya yang selalu cerah dan tersenyum, tampak bahwa Nick (28) berbeda.
Jika sebagian tunadaksa terpuruk dan menyerah dengan keadaan. Nick sebaliknya. Dia justru berusaha keras melakukan banyak hal. Termasuk yang tidak semua orang normal bisa lakukan, seperti berenang. Tak hanya itu, dia menularkan jiwa positifnya kepada setiap orang. Nick sekarang menjadi motivator dan penulis buku motivasi. Judulnya Life Withhout Limits and Hug. Dia sudah keliling dunia untuk memberikan ceramah, dan tak terhitung jumlah orang ingin mendekat dan menangis memeluknya.
Sedih berkepanjangan
Tidak ada penjelasan medis mengapa Nick terlahir cacat. Orangtua Nick sempat terpukul mengetahui anak pertama mereka terlahir cacat. Dua adik laki-laki dan perempun Nick sendiri tumbuh sempurna. Berbulan-bulan mereka sedih, bahkan bertanya kepada Tuhan “mengapa saya terlahir begini?” cerita Nick dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu, yang kemudian diunggah ke website-nya. Mereka mengkhawatirkan masa depan Nick. Bagaimana kelak Nick hidup normal dan bahagia? Bagaimana sekolah dan karirnya?
Dugaan orangtua tak sepenuhnya salah, karena semasa kanak-kanak Nick merasa sangat menderita. Saat Nick memasuki usia sekolah, ibunya disarankan untuk memasukkan Nick ke sekolah khusus anak-anak cacat. Tapi sang ibu menolak. “Sekolah-sekolah semacam itu penuh anak-anak cacat, dengan keterbelakangan mental. Sementara ibu tahu saya normal, cerdas, dan lingkungan seperti itu tak akan menguntungkan saya. Tidak ada yang kurang dengan saya, kecuali beberapa bagian saja, “ ungkap Nick. Sang ibu bersikukuh memasukkanya ke sekolah umum di Australia. Dia berulang-ulang bertemu dengan pihak sekolah, dan Nick harus menjalani banyak tes sebelum akhirnya bisa masuk.
Sekolah juga dibenahi dengan fasilitas tambahan, agar Nick bisa bersekolah dengan nyaman. Ada juga ‘waktu khusus’ agar Nick bisa ke kamar kecil dan sebagainya dengan bantuan orang lain. Perjuangan sang ibu tidak sia-sia. Setelah Nick, anak-anak berkebutuhan khusus lainnya menyusul. “Saya salah satu generasi pertama yang sukses masuk ke sekolah umum, “ ungkap Nick.
Bahkan PM Australia pernah mengunjunginya di sekolah, menyebut Nick sebagai pionir pembauran anak-anak normal dengan yang berkebutuhan khusus di sekolah umum. Tapi, tentu saja semua tidak terjadi dengan mudahnya. Nick yang merasa kesepian jadi tidak percaya diri serta depresi. Batinnya tak tenang, dan terus bertanya : “Mengapa saya yang menerima cobaan ini?”.
“Saya bertahun-tahun mengalami kekerasan, baik fisik maupun sekadar digoda, oleh teman-teman sekelas, “ papar Nick. “Tentu saja sakit. Tapi selama itu, Tuhan membantu saya mengatasinya dengan cara mempelajari apa yang Tuhan pikirkan tentang saya,” sambung Nick.
Maknanya adalah kita selalu bersama Tuhan. Kendati cobaan berdatangan, sungguh tak terhitung karunia Tuhan yang patut disyukuri. Menghitung karunianya, bagaikan menghitung butiran pasir. Ketika anak-anak, batin Nick berkecamuk. Dia sedih dengan keadaan fisiknya. “Di usia 8 tahun, pikiran-pikiran untuk bunuh diri melintas. Saya merasa jadi beban orangtua, dan bertanya-tanya bagaimana masa depan saya kelak. Dan saya tidak bisa menjawabnya, “ cerita Nick.
“Saya bingung bagaimana jika orangtua sudah tidak bisa merawat lagi. Apakah saya kelak bisa menikah, atau punya anak? Saya tidak berani menatap masa depan,” lanjutnya.
Tuhan punya tujuan
Selama bertahun-tahun Nick bergelut dengan perasaan menyalahkan Tuhan. Tapi karena terus memperdalam pengetahuan agama, dia menyadari Tuhan menciptakan dirinya bukan tanpa alasan. “Saya sadar saya harus menata diri lagi. Tuhan pasti punya tujuan tertentu, meski keadaan saya begini,” paparnya. Sejak itu Nick percaya Tuhan bisa menyembuhkannya kapan saja. Kadang-kadang dia pun berdoa untuk kesembuhannya, meski itu tampak mustahil.
“Saya sadar, terserah Tuhan apakah Dia mau menyembuhkan saya atau tidak, ‘katanya. Nick sadar, salah satu tujuan Tuhan menciptakannya seperti itu agar orang lain meyakini kekuasaanNya, dan bersyukur. Nick kemudian merasa tertantang untuk menyadarkan siapapun yang merasa tidak bersyukur dengan keadaannya.
Di usia 15 tahun, Nick pun merasa verbal berterima kasih kepada Tuhan, bahwa dia dibiarkan hidup. Sejak sekitar usia 17 tahun, dia merintis impiannya untuk menjadi motivator. Pada usia itu, di tahun 1993, dia memenangkan The Australian Young Citizen of the Year. Awalnya dia memberikan kesaksian tentang betapa dia pernah mengalami masa-masa penuh kekalutan namun kini begitu bersyukur atas segala karuniaNya. Tapi sekarang, Nick tampil di mana saja dia dibutuhkan.
Dia memberikan ceramah di depan para pelajar, guru, anak-anak muda, pengusaha, orangtua, wanita, wirausahawan, dan sebagainya. Mulai dari kelas kecil, hingga di depan ribuan orang. Nick sendiri lebih suka segmen remaja, karena menurutnya angka bunuh diri pada remaja meningkat. Dia ingin mencegahnya.
Motivator Dunia
Orangtua Nick melatihnya untuk bisa melakukan kegiatan orang-orang normal. Mulai dari memenuhi kebutuhannya sehari-hari (rumah dan perabotan dirancang sedemikian rupa sesuai kebutuhan Nick), sampai kegiatan sekunder seperti berenang. Orangtua melatihnya sejak usia 18 bulan.
“Jauh lebih muda jika saya sepanjang waktu didampingi perawat. Dengan keadaan fisik ini, saya terpaksa tergantung pada orang lain, dalam banyak hal,” akunya. Apalagi kini jadwal perjalanannya sebagai motivator sangat padat. Sekarang, sudah lebih dari 25 negara dia kunjungi untuk memberikan motivasi. Dan sudah ratusan acara mengundangnya sebagai motivator.
Semua orang senang bersama Nick. Dia memiliki kepribadian menyenangkan, sehingga punya banyak teman. Pada 2005, Nick mendirikan organisasi nirlaba untuk para tunadaksa, yaitu Life Without Limbs (LWL). Sebagai presiden LWL sekaligus duta tunadaksa, dia terus memompa semangat orang-orang bernasib sama seperti dirinya.
Nah, karena kebanyakan undangan berasal dari AS, pada tahun 2007 pemuda Brisbane, Australia ini pun pindah ke sana. Nick juga memanfaatkan pengalamannya sebagai motivator dengan mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang motivasi, Attitude is Altitude.
Nick dengan gayanya yang kocak dan apa adanya punya banyak fans. Salah satu kalimat Nick yang membesarkan hati semua orang adalah, “Jika Tuhan bisa menggerakkan seseorang yang tak memiliki tangan dan kaki untuk menjadi kaki-tanganNya, maka dia pasti bisa menggerakkan semua orang yang punya sekadar niat baik dalam hatinya!” .
***
Hikmah yang bisa kita ambil:
Sahabat pembaca yang baik hatinya, dalam kehidupan ini semuanya telah diatur oleh sang Maha Gagah, Allah SWT. Semuanya di desain sedemikian rupa dan sebaik mungkin. Kelengkapan anggota tubuh adalah anugrah begitupun kekurangan anggota tubuh adalah anugrah. Ada pesan-pesan tersirat yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita manusia. Supaya apa? Supaya mata hati kita sedar akan nikmat yang diberikanNya.
Kerapkali kita terfokus pada kekurangan diri kita tanpa mengindahkan kelebihan diri kita sendiri. Kita lebih suka mencap diri kita ini bodoh daripada pintar, lebih suka mengatakan tidak bisa daripada kata bisa, lebih fokus memikirkan hal-hal negative daripada berfokus pada pikiran positif.
Sahabat yang baik hatinya,
Jangan terfokus pada suatu permasalahan hidup, tapi fokuslah pada solusi dari permasalahan itu. Karena orang yang fokus pada permasalahan hidup, pda kekurangan hidup, maka dia selamanya akan mengeluh, putus asa dan tidak akan pernah merasakan rasa yang sempurna yakni “bahagia”. Sedangkan orang yang fokus pada solusi dari setiap permasalahan yang diberikan dalam hidup, senantiasa akan bersyukur atas apa yang ada, giat belajar dan memahami kehidupan ini dengan baik dan bijak, serta selalu merasakan kebahagiaan di dalam dirinya.
Ayolah, kita ambil hikmah dari kisah nyata di atas, seorang Nick Vijicic, seseorang yang kekurangan kelengkapan anggota badannya ternyata bisa menjadi motivator dunia, bisa menjadi kaya, dan bisa mendapatkan banyak teman di dunia. Itu semua karena apa? Karena Nick fokus pada solusi dari permasalahan kekurangan dirinya walaupun sebelumnya dia sempat mengeluhkan kekurangannya. Sahabat boleh mengeluh atas kekurangan, namun terus menerus mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Malah mandar akan menambah masalah. Ayo bangkit, ucapkan rasa syukur kita kepada sang Pencipta alam ini, Alhamdulillah…!
Setelah membaca kisah ini, sahabat pembaca yang baik hatinya akan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan, selalu optimis dalam menghadapi kehidupan terutama optimis berprestasi di sekolah, senantiasa melakukan hal-hal positif setiap hari dan siap menjadi manusia yang full manfaat. Sahabat siap???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar