Tak ada yang mampu mencegahnya untuk berbuat hal yang sama di relung hari-harinya. Pekerjaannya tak pernah membuat ia jemu dan bosan. Malahan ia semakin menjadi-jadi dalam berbuat semaunya. Tekanan bathinnya semakin kuat dan terkadang ia merasa mati dalam jiwanya. Ia bergerak tapi tak merasa. Ia mendengar tapi tak mendengar suara apapun. Ia makan dan minum tetapi tak tahu apa yang ia makan dan ia minum. Ia hampir gila jika teringat masa-masa dimana ia harus menjalani perbuatan seperti sekarang ini. Perbuatan yang penuh dengan gelembung dosa. Perbuatan yang penuh dengan cacian orang-orang jika mereka mengetahuinya. Alangkah malangnya ia. Bahkan terkadang Helli malu terhadap dirinya sendiri dan keluarga. Namun ia tak tahu harus berbuat apa jika ia tidak melakukan pekerjaan tersebut.
Sejak ibu dan bapaknya meninggal karena sakit jantung, ia di tuntut keadaan untuk hidup mandiri. Hidup yang tidak tergantung kepada orang lain. Bahkan hidup yang tidak meminta-minta kepada yang lain hanya untuk mengisi perutnya itu. Ketambah lagi setelah semua keluarganya meninggal dunia karena tertimpa longsor besar di daerahnya. Ia benar-benar harus bertahan hidup dalam kesendirian. Tak ada teman dan tak ada saudara.
Helli yang sekarang mengontrak sebuah rumah di sebuah kota kecil di daerah Tasikmalaya harus bisa menghidupi dan membiayai semua keperluan dirinya. Sehingga hal ini menuntut Helli untuk melamar pekerjaan kemanapun. Namun sayangnya ia tidak bisa di terima di perusahaan manapun karena sekolahnya yang rendah bahkan SD pun ia tidak tamat dan akhirnya harus seperti ini setelah melewati masa-masa keputus asaannya.
Gadis berusia 20 tahunan ini bekerja di sebuah hotel mewah yang cukup elegan. Terkadang ia merasa senang bekerja di tempat itu. Tetapi pikirannya yang lain mengatakan bahwa tempat itu adalah tempat setan yang berkeliaran. Neraka. Bahkan lebih dari itu. Ia mencela, menghina dan terkadang ia ingin lari dari tempat itu. Tetapi karena tuntutan biaya hidupnya dan adiknya yang sedang mengenyam pendidikan di sekolah dasar itu ia harus melakukan pekerjaan bejadnya.
”Hei? Maniz... kau ini cantik sekali, mu minta bayaran berapa untuk satu malam saja denganku? Hah?”.
Itu adalah salah satu ucapan yang ia benci di dalam hatinya tetapi ia harus melakukannya. Sebersit ia tidak menyalahkan dirinya tapi menyalahkan Tuhan yang telah menjadikannya begini. Tuhan yang tidak memberinya pekerjaan yang layak dan halal. Tuhan yang membawanya ke tempat seperti itu. Tapi ia sadar bahwa mungkin Tuhan punya rencana lain atau memang membencinya.
Setelah lama ia bekerja di tempat itu untuk melayani laki-laki hidung belang, ia bermaksud untuk mengikuti apa kata hatinya. Ia ingin bebas. Ia ingin punya suami dan hidup bahagia di sebuah rumah walaupun kecil. Air matanya menetes di pipinya. Ia tak kuasa menahan tangis yang membendung di matanya. Lalu…
“Kenapa kamu nangis Hell? Da apa?” salah satu teman kerjanya bernama Lisa bertanya. Lisa sudah akrab dengan Helli semenjak Helli datang ke Hotel itu untuk bekerja.
”Aku ingin tobat Lis, aku tidak mau teruz teruzan seperti ini. Kapan aku mendapatkan kebahagian bagi diriku sendiri? Selama ini kita hanya membahagiakan orang lain. Tapi kita sendiri terpuruk dalam ketakutan...”
”Iy tapi kita mau kerja pa Hell? Kamu sendiri kan sudah tahu untuk mendapatkan pekerjaan itu susah sekali”.
”Apapun akan aku kerjakan asal halal liz, aku rela jadi tukang kayu, aku rela jadi pembantu, aku rela jadi apapun asal halal liz....” amarah di sertai isak tangis menyelimutinya.
Demikian percakapan antara Lisa dan Helli. Helli menginginkan lepas dari jeratan perbuatan maksiat itu. Perbuatan tercela yang amat hina. Ia malu harus menghidupi adiknya dengan uang hasil perbuatannya yang haram. Jiwanya kosong dan gelap. Tekanan batinnya semakin besar dan berbuah kemiskinan hati. Ada sejuta harapan yang belum tercapai. Ada banyak langkah yang belum ia raih. Tapi ia bingung apa yang harus ia perbuat.
”kapan Lis aku merasakan nikmatnya makan, nikmatnya minum, nikmatnya hidup? Aku ingin bebas lis, aku ingin bebas...” sembari mengeluarkan airmata ia tersungkur di pangkuan temannya itu. Temannya hanya terdiam seakan-akan merasakan hal yang sama.
Tekanan bathin dari semua kesalahan yang ia sudah perbuat semakin menjadi-jadi. Rasa putus asa sudah ada di depan matanya. Keringnya kebenaran sudah terasa di dalam lubuk hatinya. Keinginan untuk mengakhiri hidupnya semakin dekat. Rasa bersalah terhadap dirinya sendiri telah membuatnya merasa menjadi orang yang terhina di alam dunia. Bahkan lebih hina daripada binatang sekalipun.
Dengan diam-diam ia mencoba untuk keluar dari tempat terkutuk itu, sebuah hotel tempat pelacuran. Ia mencoba untuk mencari pekerjaan yang lain yang lebih halal. Tapi ternyata apa yang dikatakan oleh temannya lisa itu benar. Setelah ia mencoba kesana kemari melamar pekerjaan tak ada satupun yang menerimanya. Gejolak jiwanya semakin menjadi-jadi. Bagaimana ia harus menghidupi adiknya dan membiayai sekolahnya.
Keringat mulai bercucuran. Keraguan mulai memenuhi ruang di hatinya. Keputus asaan juga sudah hampir satu jengkal terhadapnya. Namun ada satu ruang di lubuk hatinya yang membuat ia bertahan untuk terus mencari dan mencari. Itulah ruang keyakinan. Ia yakin untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan harus banting tulang dan tahan ujian. Rasa malu terhadap dirinya sendiri dan terhadap Tuhannya semakin dalam dan curam. Oleh karenanya ia pupuk ruang keyakinan itu untuk menuju sesuatu yang ia impikan di depan sana. Sekarang air matanya mengalir membasahi pipinya yang putih dan merona. Rambutnya sedikit kusut tertampar angin jalanan. Badannya lesu tiada tenaga untuk berjalan lagi. Pikirannya di rasuki oleh ruang besar hal pesimis. Lalu ia rehat di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Sembari memesan minuman dan makanan ia tertegun dengan pandangan kosong kedepan. Dilihatnya ada beberapa orang anak yang sedang asyiknya bermain di taman. Taman yang berumput hijau dan di kelilingi pepohonan yang rimbun sehingga membuat betah bagi siapapun yang berada di bawahnya.
Pikirannya melayang. Dan ia terbawa memori masa lalunya. Dimana ia di besarkan dan di lindungi oleh keluarganya. Di sebuah perkampungan yang bernama cilegon, Tasikmalaya. Desa yang terbilang makmur dan sejahtera. Namun semenjak gunung yang berada di dekat desanya itu longsor karena seringnya para penebang liar dari berbagai daerah yang datang untuk mengambil dan menjual penyangga-penyangga tanah itu maka semuanya tinggal kenangan dan hanya dataran bagai padang pasir sekarang yang ia lihat. Semua penduduk desanya tertimbun longsor. Hanya 4 orang yang selamat dari jumlah 124 penduduk itu. Ia dan adiknya beserta kedua temannya yang bekerja di luar kota. Keberuntungan berpihak padanya. Saat itu ia dan adiknya pergi ke rumah temannya di desa sebelah yang tidak terkena longsoran. Mungkin guratan takdir Tuhan sudah pasti pikirnya. Tak ada yang bisa mengulang waktu dan kembali seperti dulu. Itu adalah hal yang sia-sia. Kendatipun kita berbuat hal yang sama seperti kemaren itu bukanlah waktu kemaren tapi waktu sekarang.
Nikmatnya goreng pisang dan air putih membangunkan ia dari lamunannya. Ia kembali mengalihkan pandangannya kedunia nyata. Dunia yang penuh dengan fatamorgana dan hiruk pikuk bencana.
”Berpa bu???”
”5000 neng.”
”Ini bu. Terimakasih ya bu”
”Sama-sama neng. Oiya kalau boleh tahu neng mau kemana? Ko sendirian?” tanya si ibu warung dengan penuh perhatian.
”Owh... ini bu saya mau mencoba melamar kerja tapi dari kemarin belum berhasil juga.”
”Sudah neng coba melamar ke pabrik itu? Ibu dengar-dengar katanya pabrik itu sedang membutuhkan pekerja baru. Ya kali ja neng di terima disana” ujar si ibu warung sembari menunjuk sebuah pabrik yang tempatnya lumayan dekat.
”Owh belum bu... iy nanti akan saya coba melamar kesana. Terimaksih ya bu”
Kemudian ia segera beranjak dari warung ibu Minah. Jajannya tadi rupanya bisa juga mengetahui nama pemilik warungnya. Perjalananpun ia mulai menuju pabrik yang di bicarakan oleh si ibu warung tadi. Sesampainya di depan pabrik tepatnya di tempat pos satpam ia mencoba mengutarakan keinginannya. Setelah berbincang-bincang dengan satpam lalu masuk ke dalam pabrik dan ia langsung menyatakan tujuannya datang kesana. Seseorang yang bertugas sebagai bagian penerimaan pelamar kerja mewawancarainya dengan bijak. Selang beberapa lama kemudian ia dinyatakan di terima bekerja di pabrik kue PT. Makmur Jaya itu sebagai staf administrasi. Rasa syukur ia ucapkan dengan perlahan di dalam hatinya dan keluar sedikit pelan di mulutnya. Bagaimana tidak 1 bulan ia mencoba melamar kerja baru kali ini ia di nyatakan di terima. Ia merasakan adanya sebersik kasih sayang Tuhan. Sekarang ruang keyakinan itu sudah mengalahkan ruang pesimis di dalam hati sanubarinya. Ia segera pulang kerumahnya dan sebelum keluar dari pabrik itu, tepatnya di gerbang, seorang satpam bertanya.
”Bagaimana neng lamarannya?” sambil tersenyum satpam itu bertanya.
”Alhamdulillah pak di terima. Terimakasih ya pak sudah mengijinkan saya untuk melamar disini” tuturnya.
”iya sama-sama neng. Kalau boleh tahu darimana neng dapat info ada lowongan pekerjaan disini?” tanya satpam itu penasaran.
”Dari ibu Minah pak, pemilik warung di depan sana.” jawabnya sembari menunjuk ke arah dimana warung itu berada.
”Warung bu Minah neng???” tanya lagi satpam dengan penuh kebingungan.
”iya pak, warung di bawah pohon besar itu di pinggir jalan”
”Maaf ya neng, setahu bapak selama bekerja disini 7 tahun belum pernah mendengar warungnya bu Minah dan ada di bawah pohon besar di pinggir jalan itu. Sepanjang jalan ini tidak ada warung di pinggir jalan yang ada hanya perumahan biasa ja neng.” jawab pak satpam menjelaskan.
Kepalanya mulai bingung. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dinginnya keluar perlahan. Dan ia merasa yakin warung bu Minah itu adalah nyata. Masa ia melamun sampai sejauh itu. ”Ini kan tidak mungkin” gerutunya dalam hati. Lalu tanpa berpikir panjang lagi ia pamit kepada pak satpam untuk pulang. Dalam hatinya penuh dengan rasa penasaran akan keberadaan warung bu Minah itu. Dengan langkah kaki yang terburu-buru ia berjalan menuju jalan yang sama ke arah warung. Setelah sampai di bawah pohon besar seperti sebelumnya, ternyata ia tidak melihat apapun disana. Yang ada hanya kebun biasa yang di tanami pohon singkong. Kini hatinya mulai bertanya-tanya. Siapa ibu Minah itu dan apakah karena pikirannya yang sudah mulai stress, ia jadi salah lihat. Lalu ia melihat goreng pisang yang tadi sempat ia bawa karena tidak habis. Ternyata goreng pisang itu adalah asli dan nyata. Semakin bingung dan tidak percaya sekarang menyelimuti hati dan pikirannya.
Karena hari sudah semakin sore ia beranjak pulang. Di perjalanan ia berpikir atas kejadian yang menimpanya. Setelah kejadian itu, di rumah ia mencoba belajar agama kepada adiknya. Walaupun masih tingkat SD tapi adiknya sangat luas dalam wawasan perihal agama. Adiknya memang sengaja di pesantrenkan dan di sekolahkan. Ia belajar dari pelajaran agama yang terkecil sampai yang paling besar. Adiknya yang bernama Syaeful itu sangat ramah dan menyayangi kakaknya. Ia menyampaikan apa yang ia tahu tanpa menyembunyikan sesuatu apapun tentang ajaran agama.
Sembari berlinang air mata, Helli mendengarkan penjelasan dari adiknya tercinta. Adiknya Syaeful tidak mengerti terhadap kakaknya yang terus menangis di saat ia berbicara tentang masalah agama. Tanpa bertanya adiknya terus menyampaikan sesuai dengan apa yang di sampaikan oleh guru-gurunya baik itu di pesantren maupun di sekolah. Alangkah bahagianya Helli sekarang kendatipun jiwanya merasa terpuruk. Masa silamnya membawanya kedalam jurang neraka. Jurang kecelakaan dan jurang dimana syetan bersemayam. Sekarang di relung hatinya ada seberkas cahaya terang yang mulai menerangi jiwanya. Kesejukan hatinya bisa ia rasakan dengan kesejukan yang tiada tara. Bagaikan kehausan di padang pasir dan menemukan air dingin yang ketika diminum leburlah rasa haus itu.
Perlahan helli mengerti tentang agama dan mulai melaksanakannya sesuai dengan kemampuan. Pekerjaannyapun berlangsung dengan baik dan dengan upah yang lumayan tinggi sehingga sangat cukup untuk kehidupan dirinya dan adiknya. Adiknya yang selalu berprestasipun membuat kebanggaan tersendiri baginya. Kebahagiaan mulai bisa ia raih sekarang. Nikmatnya makan, nikmatnya minum dan nikmatnya menjalani kehidupan mulai mengisi hari-harinya. Setelah sekian lama ia hidup berkecukupan, ia menikah dengan seorang laki-laki yang mapan dan sangat mengerti agama. Selain pintar dan cerdas laki-laki yang bernama Anwar itu juga sangat tampan dan berwibawa. Sebelum menikah ia utarakan semua kekurangannya terhadap suaminya itu. Dan dengan tulus hati suaminya menerima helli dengan penuh bijaksana. Kebaikan hatinya membuat helli tertarik kepadanya dan memberikan kesempatan bagi Anwar untuk menjadi imam dalam bahtera rumah tangganya. Anwar adalah seorang Guru yang bekerja di beberapa sekolah di daerahnya. Keluarganya terkenal cukup ramah dan berwibawa. Hal ini merupakan suatu keberuntungan bagi Helli bisa mendapatkan suami seperti dia jika melihat masa lalunya yang curam.
”Aku bersedia menjadi suamimu bagaimanapun keadaanmu Helli” itulah kata-kata yang selalu terngiang di dalam benaknya mengenai kesiapan suaminya untuk menikahinya. Tanpa berpikir panjang selang beberapa bulan dari di dapatkannya pekerjaan Helli melangsungkan pernikahan. Mereka tinggal dalam sebuah rumah yang sederhana.
Semenjak pernikahannya itu Helli menjadi sangat agamis. Ia bertekad untuk mengganti dan menebus kesalahannya yang telah ia lakukan di masa lalu. Yang membuat ia mengeluarkan air mata setiap hari dan mempunyai jiwa yang haus akan cahaya kebenaran. Ia mengingat dahulu pernah menyalahkan Tuhan atas apa yang menjadi guratan takdirnya. Hatinya sekarang luluh. Jiwanya tertegun. Pikirannya menunduk. Dan ia berdoa memasrahkan segenap hidupnya kepada sang Maha Kuasa.
”Ya Allah Maafkanlah atas semua kesalahanku” hatinya bergumam dengan penuh harap. Lagi-lagi air matanya membasahi pipinya yang merona itu. Di tempat sujud itu ia mencurahkan semuanya kepada Allah SWT. Tak ada lagi tempat bergantung dan meminta selain kepadanya. Tuhan yang satu dan tak terbilang akan satunya. Tuhan yang tidak punya anak dan tidak pula di peranakan. Tuhan yang tidak serupa dengan semua makhluknya. Tuhan yang di tangannyalah semua kehidupan ini.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar