Hanya masalah waktu yang di tunggu. Ridwan seorang pemuda yang sedang mengenyam pendidikannya di salah satu Universitas di Jakarta ini berharap banyak akan kehadiran seorang pendamping dalam hidupnya. Meski ia menyadari kalau mendapat pendamping hidup itu tidaklah mudah, tapi ia yakin untuk kesekian kalinya ia mencoba dan gagal, tapi kali ini ia beroptimis akan segera mendapatkannya. Mengapa, karena ada satu gadis yang ia sukai. Walau baru kenal beberapa minggu tapi ia merasa dalam kedekatannya dengan si gadis merasa nyaman dan cocok satu sama lain. Akhirnya tibalah dimana ia merasa harus mengungkapkan segala permasalahan isi hatinya.
”Aq tdk brmksd lncang ntk mngtkn hal ni, tp rs pnsrn n kgndhn kn slalu mnylmti ht ni jk tdk aq ungkpkn. Aq... aq...”
Begitulah sebagian dari sms yang ia kirimkan untuk si gadis. Harapan dan impian sudah ia tunggu di depan mata. Tinggal menunggu bagaimana jawaban yang akan di berikan oleh si gadis. Ridwan menulis kata katanya dengan hati penuh rasa takut, was was dan bahagia. Terkadang ia optimis di selubungi oleh seikat senyuman dan terkadang ia murung di ikat dengan muka takut. Kali ini dadanya benar benar berdebar kencang. Bahkan lebih keras dari detakan jarum jam di dinding. Ia merasa dunia ini sempit dan luas. Ia merasa dirinya bahagia dan sedih. Kemudian ia bergumam.
”Apa ini yang di sebut dengan jatuh cinta?”
Suasana malam makin larut. Bulan bersinar sepenggal seakan-akan menampakkan rasa malu oleh gelapnya malam. Bintang saling menyahut dengan kedipan-kedipan cahayanya satu sama lain. Suara hewan kecil semakin terdengar nyaring menemani hatinya yang sedang di landa gundah gulana. Ia tak bisa duduk tenang. Tak bisa tidur. Tak bisa merasakan rasa makanan dan minuman yang ia makan dan minum. Semua serba tak berasa saat itu. Yang ada hanya perasaan gundah gulana yang di penuhi oleh rasa penasaran di dalam hatinya. Penantian akan respon si gadis dengan smsnya itu.
Kadang terbersit bayangan dalam kepalanya kalau cintanya di terima. Maka tercurah semua kebahagiaan dalam hidupnya. Semua strategi hidup ia susun melalui bayangan hampa itu. Ia bisa melihat kedepan saat ia sudah bersama dengan si gadis yang baru ia kenal. Namun terbayang pula saat cinta dan kasih sayangnya lebur begitu saja di terpa kata-kata penolakan. Semua bayangan kebahagiaan hancur di hapus oleh bayangan hitam kelap. Ia tak dapat melihat masa depannya dengan jelas dan hal lain lagi yang membuat ia gumam dan gusar. Sebersit terdengar dari kedua bibirnya berkata:
”Alangkah bahagianya jika cintaku ini tersampaikan. Dan alangkah malangnya diri ini jika kasih dan sayangku terlebur begitu saja di hempas lautan gelap”
Kini ia melihat pesan terkirim yang ada di ponselnya yang cukup kecil dan sederhana. Saat itu ia melihat kembali pesan yang sudah ia kirim untuk si gadis yang ia dambakan. Sesaat ia lihat pesan terkirimnya, hatinya makin panas dan jantungnya makin berdetak kencang. Ia kembalikan ke pesan masuk dan menunggu ada pesan baru yang datang. Pesan harapan dari bidadari yang teramat anggun untuk dilihat. Pesan kebahagiaan yang seperti diinginkannya sejak pengiriman pesan itu.
Satu menit, dua menit, tiga menit sampai dengan lima belas menit pesannya belum juga ada balasan. Ia khawatir kali ini. Ia semakin gundah dan merana. Rasa takut mulai menghantui sekujur tubuhnya. Keringat mulai membasahi badannya. Tangannya bergetar di sertai debaran jantungnya yang semakin keras.
Lalu ia berbaring di atas kasur mininya. Ia menghela nafas panjang sampai berulangkali. Ia lihat dinding kamarnya melalui garis langit-langit. Ia tak tahu apa yang ia pandang. Pandangannya mulai kosong dan tak terarah. Kini ia sedang beratnya menanti jawaban dari sang gadis idaman.
”Kriiiiiink....”
Akhirnya ada pesan yang masuk dalam inboknya. Dengan cepat ia meraih ponselnya yang ia taruh di meja di sebelah ranjang tidurnya. Semakin kencang dan keras debaran jantungnya kali ini. Ia mulai membuka kunci ponselnya dan membuka pesan yang masuk itu. Matanya tak karuan dan dahinya sedikit mengkerut untuk melihat pesan itu.
”Aaaah... km ni luchuu, maza ru z qt knl koq dh mu mngikt cnt n ksh syg sich... anh bgt dech, ktm z khn blm lm, mf y...”.
Serentak ia kaget dan merasa dirinya down. Seluruh tubuhnya kaku dan sedikit demi sedikit terhampar di lantai. Kakinya terasa tidak kuat untuk menahan beban badannya. Seakan dunia berpangku di pundaknya. Sangat berat. Sangat sulit untuk bangkit. Semua terjadi begitu saja dan dengan sendirinya.
Ia mengerti setiap hurup yang di tujukan untuknya oleh si gadis itu. Tak satupun kata-katanya yang terlewat dari pandangn matanya. Dan kini setelah ia membaca dan mengerti apa arti dari pesan itu, ia terkujur kaku dan terdiam seribu bahasa. Perlahan ponselnya yang ada di genggamannya ia taruh di sebelah kanan dimana ia duduk. Matanya mulai memandang ke luar jendela dan melihat beribu bintang yang sedang berkedip. Bulan yang indah tak lagi terlihat karena tertutup awan malam di ufuk langit. Ia berdiri dan menuju jendela. Tangannya memegang pegangan jendela dan matanya tertuju tepat di tengah-tengah langit yang penuh dengan ribuan bintang.
Teringat semua bayangan indah yang sempat terbersit dengan gadis idamannya itu. Dan sekarang semua itu hancur lebur di hapus cahaya gelap. Pikirannya tak karuan dan rasa gundah gulana yang semula ada berganti menjadi kesedihan rasa sakit hati yang teramat sangat. Ridwan mencoba menghibur dirinya sendiri dengan pikiran-pikiran penyembuhnya. Sekuat yang ia mampu ia mencoba. Tapi sulit sekali baginya untuk menerima kenyataan itu saat ini.
Ia mencoba menghela nafas panjangnya kembali dan terdiam cukup lama di jendela kamarnya dengan hanya memandangi suasana malam di sekitarnya. Ada banyak keinginan yang ingin dia lakukan saat itu. Bahkan terbersit ia ingin mengakhiri hidup yang terasa tiada guna itu. Benar kata para penyair bahwa hati yang sedang jatuh cinta akan sangat mendambakan bahkan menghambakan kepada yang dicintainya. Lebih jauhnya lagi para penyair mengatakan bahwa cinta bisa membuat gila. Sekarang kata-kata itu sangat kental terasa di benak dan di hati Ridwan. Hatinya pilu. Pikirannya lesu. Dan badannya luluh tak kuasa menahan patah hati yang teramat sangat. Lalu...
”Inikah yg di nmkn jatuh cinta???” hatinya bergumam dalam.
Keesokan harinya dia tak punya semangat. Tujuan hidupnya yang semula dia rancang tak dilihatnya lagi. Pagi terasa malam. Matahari terasa tak muncul ke permukaan. Langit bak mengkerut. Bahkan awan pun bagai menghitam. Kemudian ia cuba untuk shalat Shubuh berjamaah. Kebetulan dia bangun jam 4 pagi. Dia memang termasuk pemuda yang tahu akan ajaran agama. Bahkan dia sering mengikuti siraman rohani yang di adakan di mesjid terdekatnya.
Dia mencoba untuk bersabar. Kejadian yang semalam dia tutup rapat di hatinya. Dia mencoba tegar. Tersenyum kepada kawannya. Dan melakukan kegiatan seperti biasanya ke kampus untuk kuliyah. Meskipun hatinya sekarang dalam keadaan terpuruk. Dia tekadkan kejadian semalam adalah awal dari perjuangannya untuk mendapatkan kasih dan sayang gadis yang dia sayangi itu. Ntah kenapa ketika dia melihat kawan-kawannya itu semangat kembali muncul. Dia bercanda dengan kawan-kawannya dan mendapatkan hiburan atas hatinya yang sedang lara. Baginya kawan adalah anggota tubuh bagian luarnya yang sangat di perlukan dalam hidup. Kawan adalah lampu-lampu penerang yang senantiasa menemaninya untuk berjalan. Kawan juga menurutnya obat penawar bagi kesedihan dan kegundahannya. Baginya kawan adalah teman yang sangat tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya.
Setelah beberapa hari kemudian Ridwan mencoba mengirim kabar kepada pujaan hatinya.
”sblmny aq mhn mf atz skp aq kmrn. Tp ntu smw dtg dr lbuk ht sy scra tiba2. tp aq hrp qt msh brtmn dn ttap brskp sprt bysanya”
Itulah pesan singkat yang dikirmkannya. Ia berharap perjuangan untuk mendapatkan kasih sayangnya masih belum berakhir. Ridwan memang bukan orang yang mudah putus asa. Dia laki-laki yang pantang menyerah untuk memenuhi keinginannya.
”Iy, aq jg mnt mf y. Smga qt bs mnjdi shbt yg tdk akn prnh brpsh slmnya...” demikian pesan balasan yang dikirim oleh gadis yang ia kagumi itu.
Setelah satu minggu lewat, Ridwan selalu memberikan perhatian yang lebih untuk gadis itu. Karena tidak dapat di pungkiri hatinya masih jatuh cinta kepadanya. Dia selalu berdoa kepada sang pencipta untuk mengkabulkan apa keinginannya. Termasuk untuk tersampaikannya cinta dan kasih sayang itu. Detik terus berdetak. Menit terus berjalan dengan malunya. Jam masih enggan untuk bergeser. Hari demi hari telah terlewati. Hingga suatu hari.
”bisakah qt bertmu ntk hr ni???” pesan singkat itu ridwan baca dengan penuh kegembiraan. Pikirannya melayang-layang ke langit. Hatinya bak seluas hamparan lautan di muka bumi. Seakan terbuka berjuta harapan di depannya. Tapi dia cepat untuk mengontrol dirinya setelah mendapatkan sms itu. Dia pikir mungkin ada keperluan lain yang akan disampaikan. Lalu dia bertemu dengan gadis itu di sebuah tempat makan yang pemandangannya sangat luar biasa. Eloknya lautan di sekitarnya bisa dia rasakan. Segarnya udara bisa dia hirup. Dan gelebuk angin sepoi-sepoi merasuk dalam sukmanya.
Kini dia bertatap muka langsung dengan gadis pujaannya. Ini adalah kali ke 3 dia bertemu secara langsung dengannya. Hatinya berdebar kencang ntah kenapa. Nafasnya tidak terkontrol. Dan bicaranya jadi agak kaku. Ya begitulah yang dia rasakan saat itu. Gadis cantik yang berwajah putih seperti warna susu kemerahan itu sekarang ada di hadapannya. Sekerjap dia menatap wajahnya dan dia alihkan kembali sorotan matanya ke pemandangan luasnya lautan karena di selimuti perasaan malu. Memang tempat itu lumayan agak jauh dari tempat tinggal keduanya.
”Ada apa ?” ridwan memulai pembicaraan.
”Tak da pp. Aq Cuma ingin melihat orang yang minggu lalu mengirimkan sms ini”. Gadis itu berkata dengan lembutnya sembari memperlihatkan pesan singkat yang terdapat di draft ponselnya itu.
”lho, bukannya ini sms dr aq seminggu yang lalu? Kok masih di simpan?” Ridwan menghela nafas dan bergetar hatinya di penuhi rasa penasaran yang dalam.
” Benar. Pesan itu memang aq simpan untuk menjadi pertimbanganku. Sebetulnya selama seminggu ini aku mempertimbangkan akan kehadiranmu di hidupku.” gadis ramah itu berkata dengan sopannya.
”Maksudmu?? Aq masih belum kamu tolak???” jawabnya dengan rasa penasaran.
”Bisa di bilang begitu. Waktu lalu aq khn Cuma minta maaf ja. Maksudku aq minta maaf karena aku mau memikirkannya lagi. Seperti itulah kira2” jawab si gadis dengan nada malu.
Hati Ridwan mulai bersemi kembali. Bagaikan bunga yang sudah layu kemudian disiram dan mekar dengan indahnya. Rasa penasaran sekaligus rasa bahagia sekarang mulai bercampur di dadanya. Apakah ini suatu pertanda bahwa dia akan menerima cintanya?? Atau bagaimana??. Kini dia berada dalam kebimbangan. Dia tak sabar menanti kata-kata berikutnya yang akan di ucapkan oleh gadis yang berada di depannya. Lalu...
”aq... aq... aq... juga sangat sayang padamu.” ujar gadis itu dengan malu dan wajah tertunduk.
”Itu berarti kamu menerima Aq menjadi calon pendampingmu??”
”Iya...” balaz gadis itu dengan tersenyum indah.
Tak tebayangkan perasaan Ridwan saat itu. Hatinya gembira di iringi kebahagiaan yang teramat sangat. Bagaimana tidak perjuangannya selama ini untuk mendapatkan gadis pujaannya ternyata terkabul. Seraya dia mengucapkan Syukur dalam hatinya. Kini semangat hidupnya telah kembali pulih total. Pikirannya seakan di penuhi cahaya yang terang. Perjuangan yang selama ini dia lakukan bisa di raihnya.
Akhirnya Ridwan menjalani hari-harinya dengan bahagia bersama gadis yang bernama Riska itu.
Tamat
WARNING!!!
Mau cerita seru lainnya? Nantikan cerpen selanjutnya yang sekarang sedang dalam proses.
Created by Cucun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar