“Apa kau tidak mengerti bahwa ini merupakan suatu pertanda kau memberikan lampu hijau kepadanya. Kalau memang kau tidak mencintainya berbuatlah halnya seorang teman dan jangan lebih” . itulah kata-kata yang selalu di ingatnya semenjak dia mengadakan obrolan kecil dengan teman dekatnya yang bernama Mail. Teman sekelasnya di SMA dan sekaligus sebagai teman yang sangat dekat dengannya. Kini ucapan itu masih terbayang-bayang dalam benaknya. Ya ucapan temannya itu bagaikan racun ular berbisa yang menyebar ke dalam aliran darah di dalam tubuhnya.
Rifki yang sekarang duduk termenung di rumahnya yang sederhana melamun memikirkan ucapan kawannya itu.
“Apa aku harus mengurangi kedekatanku dengan dia y…” gerutunya dalam hati.
Tapi itu tidak mungkin, aku dekat bukan berarti memberikan lampu hijau untuknya tapi hanya sebatas kawan dekat” timpalnya lagi dalam pikirannya.
Rifki yang akrab di sapa Ropik itu memang sedang mengalami gejolak jiwa yang luar biasa. Kedekatannya dengan kawan baiknya yang bernama Anisa itu membuat hari-harinya terasa indah dan menyenangkan. Kemanapun dia pergi maka Anisa akan siap untuk menemaninya. Sebagai kawan Anisa juga menghargai Ropik halnya kawan dan teman dekatnya. Sebetulnya di antara mereka berdua tidak ada hubungan yang special namun public mengatakan hal yang berlainan.
Teman-temannya sudah menganggap bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang sangat harmonies. Bagaimana tidak, mereka terlihat sangat begitu akrabnya dan terkadang membuat teman-temannya iri terhadapnya. Anisa adalah gadis berparas cantik dan anggun yang di dambakan oleh kaum adam di sekolah Ropik. SMA 36 Bandung. Kini gadis cantik itu menjadi kawan dekatnya semenjak dia memberikan pertolongan kepada Anisa yang waktu itu dalam kecelakaan mobil. Ropik menemukan Anisa terbaring di dalam mobilnya yang posisinya menabrak sebuah batang pohon besar. Jalan itu memang sepi dan jarang di lalui oleh orang-orang. Namun Ropik biasa menggunakan jalan itu ketika pulang dari sekolahnya.
Akhirnya sampai sekarang mereka berteman akrab dan saling membantu satu sama lain. Kawan –kawan Ropik sempat terbelalak bagaimana bisa anak sederhana seperti Ropik bisa berteman dengan seorang anak Bangsawan kaya raya yang cantik lagi. Karena di mata kawan-kawannya Ropik tidak kenal dengan yang namanya Anisa. Mereka bertanya-tanya satu sama lainnya tentang persahabatan gadis itu dengan Ropik.
“Loe beruntung pik, bisa bersahabat dengan Anisa” sapa teman sekelasnya yang bernama Candra.
“Ah loe ni gmn Can, gw kan Cuma sahabatan doank sama dia gk lebih ko” jawab Ropik dengan tersenyum pilu.
“Inget pik, semua cowok di sekolah ini ingin dekat dengan yang namanya Anisa itu tapi mereka gak bisa. Malu lah, gengsi lah, atau alasan lain yang keluar dari kalangan rendah… loe emang beruntung pik, gw iri ma loe” jawab temannya dengan nada agak sedikit iri.
“Ah loe ni gmn gw kn dh bilang Cuma berteman sja. Jangan di anggap lebih” timbal Ropik datar.
Keesokan harinya Anisa mengajak Ropik jalan-jalan di sekitar taman rumahnya. Dengan menggunakan mobil sedan merahya Anisa Ropik mengikuti kemana arah mobil itu membawanya. Sekali-kali Anisa mengajarkan bagaimana menyetir mobil kepada Ropik. Mereka bercanda dan penuh dengan kegembiraan di sekitar taman nan hijau itu. Rumah Anisa sangat besar dan tamannya begitu luas. Jadi ingin jalan-jalanpun harus dengan mobil. Bagaimana tidak bapaknya seeorang bangsawan yang sangat di segani dan berwibawa. Sekaligus pengusaha batik terbesar di Indonesia. Semua jalur batik yang ada di Indonesia dia yang memegangnya. Bahkan negarapun memberikan apresiasi kepadanya.
“besok-besok loe yang bawa mobil gw y pik” pinta Anisa.
“ah gk nis, gw masih kaku dalam menyetir, loe aja dech…” jawab Ropik.
“Uddah biar loe cepet bisa pik” timpah Anisa datar.
Ropik memang sudah dekat dengan keluarganya. Ibunya, bapaknya dan seluruh keluarganya. Jadi, rasa enggan sudah sedkit hilang dalam dirinya untuk mengunjungi dan bermain dengan Anisa.
Lama-kelamaan ternyata Anisa menyimpan hati kepada Ropik. Laki-laki yang sederhana dan berparaskan cukup tampan itu ternyata sudah bisa menarik perhatian Anisa. Anisa tertarik kepada ropik karena dia baik hati, suka menolong dan tidak materialistic. Sikapnya yang sederhana membuatnya jatuh dalam gelombang cinta. Bak bermain dengan seorang pangeran ketika bersama-sama dengan Ropik. Perasaan senang dan gembira dalam hatinya membuat hubungan akrab mereka semakin erat terjalin. Seakan Anisa telah mantap dengan pilihan hatinya yang sekarang ini. Memang sebelumnya Anisa pernah punya pacar juga. Tapi sayangnya hubungan mereka tidak berlangsung lama hanya beberapa bulan saja. Semua karena sifat materialistic pacarnya yang hanya ingin bersenang-senang menggunakan kekayaan Anisa. Oleh karenanya Anisa sendiri yang meminta putus dengan pacarnya itu yang bernama Reda. Teman sekolah yang terkenal sangat di idamkan oleh kaum hawa di sekolahnya.
Tapi ketika kehadiran Ropik mulai mengisi sela-sela kehidupannya dia merasa tenang dan terlepas dari praduga bahwa Ropik adalah laki-laki yang menginginkan uang di atas yang lain. Dilihat dari sikap dan perilakunya setiap hari ropik sangat sederhana dan tidak suka berpoya-poya. Itulah hal kedua yang menjadikan Ropik sebagai dambaan hatinya.
Selang beberapa hari kemudian Anisa dan Ropik berencana pergi untuk menghadiri undangan pernikahan salah satu teman bapaknya Anisa. Tadinya ayahnya pak Zaenul, mengajak Anisa untuk ikut satu mobil bersama ayah dan ibunya beserta keluarganya yang lain. Tapi ternyata Anisa lebih memilih untuk pergi bersama Ropik dengan mobil merah idamanya. Dia hanya bilang kalau bersama Ropik kemanapun suasana tidak akan bosan dan jenuh.
“Y sudah jika itu maumu. Mana Ropiknya? Sudah kamu beritahu dia kan?” ayahnya bertanya sambil bersiap-siap menuju beranda depan rumah.
“Sudah pah, tuu dia dh ada di depan. Hehehe” jawabnya dengan senyum gembira.
“hati-hati y Nis, jgn ngebut-ngebut di jalannya. Perjalanan kita lumayan jauh lho.” timbal ibunya bernama Aisyah.
“Ok dech mah…” jawabnya datar.
Dimobil mereka bercanda dan berbagi cerita. Bagi Ropik ini adalah suatu kehormatan besar. Maka untuk menolaknya sangat sulit sekali. Orang mana yang nolak untuk mengantarkan permaisurinya kota itu. Hatinya tersenyum dan merasa gembira. Ropik tidak pernah bermimpi kalau dia akan bisa menaiki mobil mewah bersama seorang bidadari tercantik yang pernah dia kenal. Terkadang dia bersyukur dan bersujud atas limpahan karunia Tuhan yang telah diberikan kepadanya itu. Namun walaupun begitu dia tidak besar hati dan tidak merasa sombong akan keberuntungannya itu.
“Jadi kemana kita akan meluncur ni An ???” Tanya Rifki dengan penuh penasaran.
“Ke Tasikmalaya pik, cukup jauh kan? Hehehe… pasti akan sangat melelahkan ni. Makanya ntar gentian ya nyetirnya…” pinta Anisa dengan nada becanda.
“Ah gmn ya Nis, gw masih blm lancar nyetir ni… ya walaupun gw pernah jadi sopir taksi sich tapi ntu juga masih belum lancar bener. Hehehe” jawab ropik dengan sedikit malu-malu.
“sudahlah gw percaya ko ma lhoe. Loe pasti bisa nyetir ni mobil. Kan hampir sama dengan nyetir taksi juga. Gk da bedanya. Bener gk? “ timpal Anisa meyakinkan Ropik.
“ya sudahlah kalau begitu. Nanti gantian ja. Tinggal bilang ja kalau loe dh merasa lelah…”
“Siiibhhhh…”
Akhirnya mereka melangsungkan perjalanan mereka dari Bandung hingga melewati kota Nagreg. Sebelum kota Nagreg Anisa sudah meminta Ropik untuk menyetir. Rasa lelahnya itu sudah sangat menguras tenaganya. Ya Ropik bisa mengerti kalau tenaga perempuan itu tidak seperti tenaga laki-laki. Perempuan sangat lemah di bandingkan laki-laki. Dengan semangat Ropik menggantikannya menyetir. Tetapi ketika di perjalanan. Ropik merasa khawatir apalagi dia membawa mobil milik seorang bangsawan besar dan anak nya. Kalau kecelakaan bagaimana dengan nasibnya kelak. Mengingat hal itu Ropik jadi tertegun dan sedikit pucat.
Anisa terlihat sangat mengantuk dan tanpa sadar tertidur di bahu Ropik. Tak banyak yang bisa di perbuat ropik selain mengiyakan bidadari untuk menikmati kelelahannya itu bersandar. Perasaan itu tiba-tiba muncul secara tiba-tiba. Dalam hati kecilnya mengatakan kalau gadis yang sekarang berada di dekatnya itu sungguh sangat menawan dan anggun pula. Dia merasakan butir-butir cinta dalam hatinya yang bersemi dengan mekarnya. Kali ini perasaan itu muncul dengan sangat cepat dan tidak di duga-duga. Dia baru menyadari akan perasaannya itu. Sebelumnya memang tidak terjadi akan hal itu. Tapi saat itu berbeda.
Jalan yang berkelok-kelok mengiringi perjalanan mereka. Suasana keramaian kendaraan meramaikan jalanan. Halulalang sepeda motor seakan mencegahnya untuk berada di posisi terdepan. Jalan Nagreg yang sangat terkenal curam itu sungguh sangat menakutkan terkadang. Selain berkelok juga jalan itu menanjak dengan curamnya. Hati Ropik semakin bergetar di iringi dengan berjuta rasa takut. Sekarang awan hitam mulai menyelimutinya. Pikirannya tak tenang dan merasa kacau. Jalanan yang menanjak dan berkelok itu membuat mata dan pikiran Ropik menjadi pusing. Dan akhirnya
JDAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRR!!!!
Mobil yang dikendarai Ropik akhirnya tertimbun mobil besar yang berada tepat di depannya. Keadaan jalan yang menanjak itu membuat mobil bis pariwisata jurusan Caheum-Tasik itu oleng dan akhirnya tidak kuat untuk melaju serta tersungkur kebelakang. Bencana besarpun terjadi. Mobil bis dan mobil yang dikendarai Ropik amblas ke jurang yang cukup terjal dan dalam. Mobilnya hancur total sedangkan Anisa dan Ropik terlempar agak jauh dari mobil dan bis itu. Banyak penumpang bis itu yang tidak selamat. Dan akhirnya semua kelihatan blank. Hitam. Dan tak ada cahaya sama sekali yang di rasakan Ropik.
***
“Dimana gw???”
“Loe di rumah sakit pik” sahut seorang gadis.
“kok bisa? Gw kan lgi nyetir tadi. Masa di rumah sakit?”
“Loe yang sabar y pik. Mungkin ni cobaan bwt loe” jawab temannya yang bernama Mail.
Disana tepatnya di rumah sakit, di ruangan persegi empat ada 7 orang yang terlihat oleh Ropik. Kendatipun matanya masih belum bisa melihat dengan jelas tapi sedikitnya dia bisa melihat walau masih berupa bayang-bayang hitam. 3 orang temannya, Mail, Indra, dan Ari. 2 orang adalah orang tuanya Anisa yaitu Ibu Aisyah dan pak Zaenul serta 2 orang lagi adalah ibu dan ayahnya yaitu pak Ahmad dan bu Cicih.
“Bagaimana keadaanmu nak?” Tanya ibunya.
“Sakit bu, kepala, kaki dan seluruh badan Ropik sangat sakit” jawabnya dengan suara serak.
“sabar ya nak, kamu terjatuh dari mobil tadi tapi dokter mengatakan kamu tidak apa-apa. Kamu sehat nak” tutur ibundanya sambil mengeluarkan air mata.
“Bagaimana keadaan Anisa bu?” Tanya Ropik.
“Dia juga baik-baik saja Cuma luka ringan ja pik. Kamu tenang saja. Sekarang kamu istirahat ya. Ibu dan bapak akan menunggu kamu disini sampai kamu sembuh. Jadi jangan khawatir ya nak”
Kali ini kata-kata ibunya begitu menusuk kedalam hatinya. Sebelumnya dia tidak pernah mendapatkan kata-kata seperti itu dari ibunya. Seakan-akan ada hal yang sangat luar biasa yang terjadi dalam diri Ropik.
Dari kejauhan terlihat ada bayangan wajah yang nampak cerah dan anggun. Rambutnya yang terurai rapih dan panjang terlihat bersinar tersorot oleh cahaya lampu. Ropik bisa menebak siapa dia. Dia adalah Anisa. Sahabat yang tadi bersamanya di mobil.
“Gmn keadaan loe pik?” Tanya Anisa dengan suaranya yang lembut.
“Ya beginilah Ann, seluruh badan gw gk bisa di gerakkan. Hehehe” ropik menjawab dengan sedikit tersenyum simpuh.
“Gmn keadaan loe jg Ann?”
“Gw gpp pik… ni loe bisa liat sendiri gmn keadaan gw sekarang.” Sapanya Anisa dengan lemah lembut dan mengeluarkan air mata.
“Kenapa loe nangis Ann???” Tanya Ropik penasaran.
Semua yang ada di ruangan itu menangis kecuali Ropik sendiri. Dia tidak tahu apa yang sebernarnya terjadi. Apakah mereka menangisi karena dia kecelakaan atau apa. Berjuta pertanyaan masih menyelimuti benaknya Ropik.
Setelah sadarkan diri beberapa saat, Ropik berkeinginan untuk buang air kecil. Lalu…
“Ibu, saya ingin pergi k Toilet. Tolong Bantu bangunkan saya y bu” dia memohon kepada ibunya.
“sambil menangis ibunya mencoba membantunya untuk bersandar terlebih dahulu.
“Sudahlah bu, kenapa harus menangis terus, opik kan gpp bu.” Ulas Ropik kepada ibunya.
Tangisan ibunya semakin menjadi jadi di ikuti oleh orang-orang yang ada di ruangan itu. Bagaikan hujan air mata yang ada di kamar tersebut.
Sesaat Ropik mengangkatkan kakinya untuk melangkah…
“ibu, ko kaki Ropik berat sekali ya…”
Dan sambil menangis ibunya membukakan selimut yang sejak tadi menyelimuti badan Ropik.
Sesaat terbuka kaki nya terlihat aneh. Ya, ada yang berbeda dengan salah satu kakinya. Kaki kanannya terasa agak pendek dari kaki kirinya. Setelah dia bisa menatap kakinya dengan jelas akhirnya Ropik mengeluarkan air mata. Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Dadanya terasa sesak untuk bernafas. Dan matanya tak kuasa untuk menderaikan air mata kesedihan yang amat sangat. Ya, semua karena kaki kanannya patah. Dan sekarang yang terlihat hanyalah perban belaka yang melilit di kaki kananya. Sekarang dia tahu penyebab hujan air mata yang terjadi di ruangan itu. Akhirnya dia menyimpulkan bahwa kakinya di amputasi.
Ropik adalah anak yang dewasa. Dia tidak pernah cengeng dan manja. Ketika melihat keadaannya seperti itu sekarang. Dia mencoba bersandar di pangkuan ibunya sambil menatap kaki kanannya dan pipinya terbasahi oleh air mata.
“Ibu, saya pasti bisa menerimanya bu, ibu jangan menangis lagi ya” tutur Ropik seakan mengobati tangisan pilu ibunya dan yang lain.
Sekarang perasaan minder mulai tumbuh di hatinya. Dia merasakan beban mental yang sangat luar biasa. Dalam hatinya dia harus sendiri. Dia harus tak punya banyak teman. Karena hal itu akan mempermalukan temannya sendiri punya teman yang pincang. Beberapa menit kemudian pandangannya tertuju pada kedua orang tua Anisa seraya berkata:
“Pak Zaenul dan ibu Aisyah. Saya memohon maaf atas kejadian ini. Semua berasal dari kelalaian saya membawakan mobilnya. Insya Allah saya akan mengganti semua kerugian mobil bapak dengan bekerja di hari depan. Saya akan menyisipkan gaji saya untuk membayar semua kerugian bapak dan ibu. Mohon maafkan saya” kata-kata itu keluar dengan suara serak dan basah. Sembari menunduk dan berderai air mata Ropik dengan tulus memohon maaf atas semua kejadian itu.
“Sudahlah pik, kami lebih mengkhawatirkan keselamatanmu daripada mobil itu. Mobil bisa di beli sedangkan nyawa? Tidak ada yang berjualan nyawa pik. Oleh karenanya kamu sudah kami anggap sebagai keluarga kami sendiri. Makanya sekarang kamu tenang saja. Dan tidak usah mengganti semua kerugian atas kecelakaan ini. Ingat itu” kata-kata itu keluar dengan nada yang amat lembut dan penuh kasih sayang.
“Tapi pak…” sahut Ropik.
“Sudahlah sudah pik. Kamu gk usah mikir hal itu lagi”
“terimakasih pak” kata ropik dengan tulus.
Lalu pandangannya berpindah pada gadis yang bernama Anisa.
“Ann, sekarang semuanya sudah seperti ini. Gw tahu loe akan malu bermain lagi dengan orang yang pincang. Jadi sekarang terserah loe mo gmn jg ma gw” tuturnya kepada Anisa.
“Maksud loe ni pa pik? Gw gk ngerti dech… hehehe. Denger ya pik bagaimanapun keadaan loe sekarang, loe adalah sahabat terbaik gw sampe kapanpun. Dan satu hal lagi yang harus loe tw kalau gw gk bkalan ninggalin loe…” kalimat itu di ucapkannya dengan tulus oleh Anisa.
“Thank y Ann… loe masih mw nerima gw sbagai sahabat loe..”
“Gw dan loe adalah satu pik. Loe adalah gw dan gw adalah loe.”
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar