Makalah
Jenis-jenis kata dan Gaya Bahasa
![]() |
Nama:
Kelas:
Kata Pengantar
Alhamdulillah
Rabbil Alamin, kata terindah sebagai ungkapan rasa syukur penulis atas petunjuk
dan rahmat Allah SWT, sehingga penulis mampu menyelesaikan Makalah ini.
Kesempurnaan hanyalah milik yang Maha Sempurna, Allah SWT. Oleh karena itu
penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun sangatlah
penulis perlukan demi kesempurnaan penulisan Makalah ini.
Penulis menyadari pula bahwa dalam penyusunan
Makalah tidak terlepas
dari dukungan, bimbingan dan bantuan dari semua pihak. Untuk itu penulis
mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada yang terhormat :
1. Guru
Pembimbing yang telah membantu dalam penyusunan tema makalah ini.
2. Orang tua kami yang senantiasa memberi dukungan moral
maupun materi kepada kami.
3. Teman-teman yang telah banyak memberikan masukan dalam
menyusun Makalah ini, dan
4. Semua pihak yang bersedia kami wawancarai guna meminta
pendapat dan sarannya dalam menyusun karya ilmiah ini.
Dan akhirnya kepada Allah jualah
penulis memohon balasan yang berlipat ganda, semoga Makalah ini dapat
berguna dalam perkembangangan kreativitas dan peningkatan aktivitas bagi kita
semua.
Penulis
Daftar Isi
Kata
Pengantar……………………………………………
Daftar
Isi…………………………………………………..
A. Jenis-Jenis Kata……………………………………..
B. Jenis-Jenis Gaya Bahasa……………………………
Daftar
Pustaka……………………………………………
A. Jenis-Jenis Kata
1.
Kata Benda (Nomina)
Kata
benda adalah nama dari semua benda dan segala yang dibendakan. Menurut
wujudnya, kata benda dibedakan menjadi dua, yaitu :
- Kata benda konkrit Kata benda konkrit ialah kata benda yang wujud bendanya nampak kelihatan dengan jelas and dapat ditangkap oleh pancaindera. Contoh : buku, kertas, rumah, dan sebagainya. b. Kata benda abstrak
- Kata benda abstrak ialah kata benda yang wujud bendanya tidak nampak kelihatan dan tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, namun keberadaannya ada. Contoh : ide, udara, ilmu, dan sebagainya. Ciri-ciri kata benda : 1) Kata tersebut terbentuk dari imbuhan : ke-, pe-, ke-an, pe-an, per-an, -an dan –nya. 2) Kata-kata tersebut dapat diperluas dengan menambahkan kata yang + kata sifat.
2.
Kata Kerja (Verba)
Kata
kerja adalah kata yang menyatakan perbuatan atau laku. Kata kerja juga disebut
verba. Kata kerja dibedakan menjadi dua, yaitu : a. Kata kerja transitif adalah
kata kerja yang selalu diikuti objek. Contoh: membeli, menabrak, menangkap, dan
sebagainya. b. Kata kerja intransitif adalah kata kerja yang tidak diikuti
secara langsung oleh objek. Contoh: menyanyi, menari, berubah, dan sebagainya.
Ciri-ciri
kata kerja:
- Kata tersebut terbentuk dari imbuhan me-, di-, ber-, ter-, me-kan, di-kan, ber-an, memper-kan, diper-kan, dan memper-i.
- Kata tersebut dapat didahului kata telah, sedang, akan, hampir, dan segera.
- Kata tersebut dapat diperluas dengan cara menambahkan dengan + kata sifat. Contoh menghitung dengan teliti, lari dengan cepat, dan sebagainya.
3.
Kata Sifat (Adjectiva)
Kata
sifat adalah kata yang menyatakan sifat atau hal keadaan dari suatu benda atau
sesuatu yang dibendakan. Kata ini disebut pula adjectiva. Menurut bentuknya,
kata sifat dibedakan menjadi :
a.
Kata sifat yang terbentuk dari kata dasar. Contoh : kuat, lemah, jauh, dan
sebagainya.
b.
Kata sifat yang terbentuk dari kata jadian. Contoh : terindah, mengecil,
terbaru, dan sebagainya.
c.
Kata sifat yang terbentuk dari kata ulang. Contoh : kekanak-kanakan,
pontang-panting, gelap-gulita dan sebagainya.
d.
Kata sifat yang terbentuk dari kata serapan. Contoh : amoral, kreatif, super,
dan sebagainya.
e.
Kata sifat yang terbentuk dari frase atau kelompok kata. Contoh : murah hati,
keras kepala, kepala batu, dan sebagainy
Ciri-ciri
kata sifat:
- Kata tersebut terbentuk dengan tambahan imbuhan ter- yang mengandung arti paling.
- Kata tersebut dapat diterangkan atau didahului dengan kata-kata lebih, agak, paling, sangat, cukup.
- Kata tersebut dapat diperluas dalam bentuk se + reduplikasi (pengulangan kata) + nya.Contoh : secantik-cantiknya, setinggi-tingginya, dan sebagainya.
4.
Kata Ganti (Pronomina)
Kata
ganti adalah kata yang dipergunakan untuk menggantikan benda atau sesuatu yang
dibendakan. Kata ganti dibedakan menjadi :
a.
Kata ganti orang Ialah kata ganti yang digunakan untuk menggantikan nama orang
atau nama benda-benda lain. Kata ganti orang dibagi lagi menjadi :
1)
Kata ganti orang pertama tunggal, yaitu : aku, saya, hamba, dan sebagainya
2)
Kata ganti orang pertama jamak, yaitu : kami, kita.
3)
Kata ganti orang kedua tunggal, yaitu : kamu, dikau, kau, anda, dan sebagainya.
4)
Kata ganti orang kedua jamak, yaitu : kalian
5)
Kata ganti orang ketiga tunggal, yaitu : ia, dia, beliau
6)
Kata ganti orang ketiga jamak, yaitu : mereka
b.
Kata ganti kepunyaan Kata ganti kepunyaan ialah kata ganti yang digunakan untuk
menyatakan kepemilikan. Contoh : Baju saya, sepatu kamu, sepedaku, mobilnya,
dan sebagainya.
c.
Kata ganti petunjuk Kata ganti petunjuk ialah kata ganti yang digunakan untuk
menunjuk suatu tempat atau benda. Contoh :ini, itu, sana, dan sebagainya.
d.
Kata ganti penghubung Kata ganti penghubung ialah kata ganti yang dipakai untuk
menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat. Kata penghubung yang biasanya
dipakai yaitu : yang, tempat, waktu. Contoh : Baju Rafi yang berwarna merah itu
mahal harganya. Kantor Kabupaten tempat ayahku bekerja, dikunjungi oleh
gubernur. Tadi pagi, waktu ayah pergi tergesa-gesa, hujan lebat sekali.
e.
Kata ganti tanya Kata ganti tanya ialah kata ganti yang digunakan untuk
menanyakan tentang benda, orang atau tentang suatu hal. Contoh : apa, mana,
siapa.
f.
Kata ganti tak tentu Kata ganti tak tentu ialah kata ganti yang digunakan untuk
menunjukkan atau menggantikan benda atau orang yang jumlahnya tak tentu. Contoh
: masing-masing, seseorang, sesuatu, para, dan sebagainya.
5.
Kata Keterangan (Adverbia)
Kata
keterangan adalah semua kata yang menerangkan atau memberikan keterangan
terhadap selain kata benda. Dengan kata lain, kata ketereangan adalah semua
kata yang memberi keterangan pada kata kerja, kata sifat, kata bilangan atau
seluruh kalimat. Kata keterangan dapat dibedakan menjadi banyak bagian,
diantaranya yaitu :
a.
Kata keterangan tempat ialah semua kata yang menjelaskan suatu tempat lokasi,
misalnya : disini, disitu, di rumah, dan sebagainya.
b.
Kata keterangan waktu ialah semua kata yang menjelaskan berlangsungnya sesuatu
dalam waktu yang teretntu, misalnya : sekarang, nanti, minggu depan, dan
sebagainya.
c.
Kata keterangan alat ialah kata yang menjelaskan dengan apa sesuatu itu
berlangsung. Contoh :dengan tongkat, dengan pisau, dengan membabi buta, dan
sebagainya.
d.
Kata keterangan syarat ialah kata yang menerangkan terjadinya suatu proses di
bawah syarat-syarat tertentu, misalnya : jikalau, seandainya, bila, dan
sebagainya.
e.
Kata keterangan sebab ialah kata yang memberi keterangan mengapa sesuatu itu
bisa berlangsung, misalnya : sebab, karena, oleh karena itu, dan
sebagainya.
6.
Kata Bilangan (Numeralia) Kata bilangan adalah kata yang menyatakan jumlah
kumpulan dan urutan atau tingkatan suatu benda sesuatu yang dibendakan. Kata
bilangan dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu : a. Kata bilangan
utama ialah kata bilangan yang menyatakan satuan jumlah dalam angka. Contoh
:satu, seratus, seribu, dan sebagainya.
b.
Kata bilangan bertingkat ialah kata bilangan yang menunjukkan tingkatan atau
susunan jumlah sesuatu. Contoh : kesatu, kedua, keseribu, dan sebagainya. c.
Kata bilangan tak tentu ialah kata bilangan yang menyatakan jumlah satuan
sesuatu yang tak tentu. Contoh : beberapa, sebagian, segerombolan, dan
sebagainya. d. Kata bilangan bilangan ialah kata bilangan pelengkap yang
menunjuk pada satuan objeknya, yaitu :sehelai, secarik, sekuntung, sebutir,
seonggok, sebuah, sepiring, dan sebagainya.
7.
Kata Sambung (Konjungsi)
Kata
sambung adalah kata yang berfungsi untuk menyambungkan bagian-bagian dalam
kalimat atau menggabungkan antara satu kalimat dengan kalimat yang lain bahkan
satu paragraf dengan paragraf yang lain. Berdasarkan jenisnya,kata sambung
dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu :
1)
Kata sambung menyatakan gabungan, contoh : dan, lagi, serta
2)
Kata sambung menyatakan pertentangan, contoh : tetapi, akan tetapi, melainkan,
tidak hanya,dan sebagainya.
3)
Kata sambung menyatakan waktu, contoh : bila, selama, sesudah, sehabis, dan
sebagainya.
4)
Kata sambung menyatakan tujuan, contoh : agar, supaya, biar, dan sebagainya
5)
Kata sambung menyatakan sebab, contoh : sebab, karena, sebab itu, dan
sebagainya
6)
Kata sambung menyatakan akibat, contoh : hingga, sampai, dan sebagainya.
7)
Kata sambung menyatakan syarat, contoh : jika, apabila, andaikata, dan
sebagainya
8)
Kata sambung menyatakan pilihan, contoh : atau, maupun
9)
Kata sambung menyatakan perbandingan, contoh : ibarat, seperti, bak, dan
sebagainya
10)
Kata sambung menyatakan tingkat, contoh : semakin, kian, dan sebagainya
11)
Kata sambung menyatakan penjelas, contoh : bahwa
12)
Kata sambung menyatakan cara, contoh : sambil, sembari dan sebagainya
13)
Kata sambung menyatakan pengantar kalimat, contoh : alkisah, konon, dan
sebagainya
8.
Kata Depan (Preposisi)
Kata
depan adalah kata yang berfungsi merangkaikan kata/kelompok kata satu dengan
kata/kelompok kata yang lain dalam suatu kalimat sekaligus menentukan jenis
hubungannya. Pada umumnya, kata depan berfungsi merangkaikan kata benda atau
kata yang dibendakan dengan jenis kata lain. Adapun cara penulisan kata depan
adalah harus dipisahkan dengan kata yang mengikutinya.
Berdasarkan
fungsinya, kata depan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu :
- Di, ke, dari, Ketiga kata depan ini digunakan untuk merangkaikan kata-kata yang menyatakan tempat atau seuatu yang dianggap tempat, contoh : di Jakarta, ke Surabaya, dari Bandung.
- Pada, Kata depan ini digunakan untuk menyatakan orang, nama orang atau nama binatang, nama waktu atau kiasan. Dipergunakan kata depan pada untuk menggantikan kata depan di atau kata depan yang lain, contoh : pada suatu hari, pada bapak, dan sebagainya.
- Dengan, Kata depan ini digunakan untuk menyatakan alat atau cara. Contoh : saya berjalan dengan cepat.
- Untuk, kepada, buat, tentang, akan, kepada, Kata depan ini digunakan sebagai pengantar objek tak langsung. Contoh : kami berdiskusi tentang pelajaran.
9.
Kata Sandang (Artikel)
Kata
sandang sebenarnya tidak mempunyai arti, tetapi hanya mempunyai fungsi, yaitu
menjadikan sebuah kata itu sebagai kata benda. Contoh : Tuhan sang Pencipta
alam.
10.
Kata Seru (Interjeksi)
Kata
seru adalah kata yang sudah jelas menyatakan suatu maksud tertentu, yaitu
seruan yang terdapat dalam kalimat perintah. Kata seru yang paling sering
digunakan adalah partikel lah. Selain partikel lah, macam-macam kalimat seru
yang biasa digunakan dalam bahasa kita adalah ah, oi, hai, wah, cis, gih, aduh,
amboi, aduhai, masya Allah, dan
11.
Kata Tanya
Kata
Tanya adalah uraian kata tanya dimasukkan kata ganti tanya.
Macam-macam
kata tanya :
a.
Apa, Digunakan untuk menanyakan benda, hal dan binatang. Contoh : Apa yang kau
lakukan ?
b.
Siapa, Digunakan untuk menanyakan orang. Contoh : Siapa nama adikmu ?
c.
Kapan, Digunakan untuk menanyakan waktu. Contoh : Kapan acara itu dimulai
?
d.
Berapa, Digunakan untuk menanyakan jumlah. Contoh : Berapa banyak anakmu
?
e.
Dimana, Digunakan untuk menanyakan tempat. Contoh : Dimana rumah kakekmu
?
f.
Bagaimana, Digunakan untuk menanyakan keadaan atau cara. Contoh : Bagaimana
kabar pamanmu ?
g.
Mengapa, Digunakan untuk menanyakan alasan. Contoh : Mengapa kamu tidak masuk
sekolah kemarin ?
B. Jenis-Jenis Gaya Bahasa
Berikut
ini penjelasan tentang pengertian gaya bahasa atau majas dan jenisnya
serta contohnya dapat kamu baca di artikel ini.
A.
Penjelasan Gaya Bahasa
Gaya
bahasa adalah cara bagaimana pengarang menguraikan cerita yang dibuatnya, atau
definisi dari gaya bahasa yaitu cara bagaimana pengarang cerita mengungkapkan
isi pemikirannya lewat bahasa-bahasa yang khas dalam uraian ceritanya sehingga
dapat menimbulkan kesan tertentu.
B.
Inilah jenis majas
1.
Gaya Bahasa Pertentangan
a.
Hiperbola
Hiperbola
yaitu gaya bahasa yang berupa suatu pernyataan yang terlalu berlebihan dari
kenyataan yang ada dengan maksud untuk memberikan kesan yang mendalam atau
meminta perhatian. Seperti contohnya: Dia berteriak sampai suaranya menembus
langit ke-7.
b.
Litotes
Litotes
yaitu gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan cara-cara yang berlawanan
dengan kenyataan, dengan cara mengecilkan ataupun menguranginya. Seperti
contohnya: Aku tidaklah Pintar itulah mengapa aku selalu bekerja keras.
c.
Paradoks
Paradoks
yaitu gaya bahasa yang bertentangan antara pernyataan dan fakta yang ada atau 2
(dua) pengertian yang bertentangan sehingga seperti tidak masuk akal.
Contohnya: Aku merasa kesepian di kota yang ramai ini.
d.
Antitesis
Antitesis
yaitu gaya bahasa yang pengungkapannya berhubungan dengan situasi, benda
ataupun sifat yang keadaannya saling bertentangan dan juga memakai kata-kata
yang berlawanan arti. Seperti contohnya: Tua muda, laki-laki perempuan banyak
yang menonton film tersebut.
Apakah itu gaya bahasa/majas?
2.
Gaya Bahasa Sindiran
a.
Ironi atau sindiran halus
Ironi
yaitu gaya bahasa yang menyatakan hal yang bertentangan dengan maksud yang
digunakan untuk menyindir seseorang tapi dengan cara yang halus. Seperti
contohnya: Rajin sekali kau masuk sekolah, sampai keterangan tidak hadirmu
banyak sekali di absensi.
b.
Sinisme
Sinisme
yaitu gaya bahasa sindiran lebih kasar dari Ironi, dengan cara menyindir secara
langsung kepada orang lain. Seperti contohnya: Kelakuanmu tadi sangat tidak
pantas dilakukan oleh seorang siswa / Badanmu sangat bau sekali pasti kamu
belum mandi.
c.
Sarkasme
Serkasme
yaitu gaya bahasa sindiran yang sangat kasar, terkadang dapat menyakitkan hati.
Seperti contohnya: Bisa kerja ga sih kamu? Yang begini juga tidak becus
mengerjakan!
3.
Gaya Bahasa Penegasan
a.
Inversi
Inversi
yaitu gaya bahasa yang kalimat predikatnya berada di depan subjek kalimat
tersebut. Seperti contohnya: Besar sekali kolamnya.
b.
Retoris
Retoris
yaitu gaya bahasa yang kalimat tanya tidak bertanya, yang dimana menyatakan
kesangsian ataupun bersifat mengejek. Seperti contohnya: Apa itu bukti dari
janji yang kau ucapkan tadi?
c.
Paralelisme
Paralelisme
yaitu gaya bahasa yang pengulangan kata-katanya digunakan untuk penegasan
didalam bahasa puisi.
d.
Enumerasio
Enumerasio
yaitu gaya bahasa yang digunakan untuk melukiskan suatu keadaan atau peristiwa
dengan cara menguraikan satu demi satu keadaan tersebut, sehingga merupakan
suatu keseluruhan.
e.
Koreksio
Koreksio
yaitu gara bahasa yang membetulkan kembali ucapan yang tidak benar atau salah,
baik itu secara sengaja ataupun tidak disengaja. Seperti contohnya: Tadi dia
baru saja pulang, oh… bukan di baru saja berangkat lagi.
f.
Repertis
Repetisi
yaitu gara bahasa yang pengulangan kata-katanya dalam bahasa prosa. Seperti
contohnya: Kita sudah berusaha, kita sudah menang, kita sudah berhasil.
g.
Klimaks
Klimaks
yaitu gaya bahasa yang menguraikan suatu peristiwa secara berturut-turut dan
semakin lama maka ceritanya akan semakin memuncak atau meningkat. Seperti
contohnya: Semua kalangan dari anak-anak sampai orang dewasa beramai-ramai
mengikuti kompotisi sepak bola.
h.
Anti klimaks
Anti
klimaks yaitu gaya bahasa yang dimana penguraian suatu peristiwa secara
berturut-turut tapi makin lama maka ceritanya akan semakin menurun, ini adalah
kebalikan dari Klimaks. Seperti contohnya: Di seluruh pelosok desa dan kota
merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-70 / Guru-guru dan seluruh orang
tua siswa menghadiri acara kelulusan.
i.
Pleonasme
Pleonasme
yaitu gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau sepatah kata secara
berlebihan dengan maksud untuk menegaskan arti dari suatu kata. Seperti
contohnya: Seluruh pelajar yang berada di bawah segera naik ke atas / Mereka
menerobos ke dalam stadion untuk menyaksikan pertandingan tersebut.
j.
Ekslamasio
Ekslamasio
yaitu gaya bahasa yang didalam kalimatnya memakai kata seru. Seperti
contohnya: Wah…, keren sekali orang itu!
k.
Tautologi
Tautologi
yaitu gaya bahasa yang mengulang beberapa kali sepatah kata didalam suatu
kalimat. Seperti contohnya: Mungkin, mungkin dia bisa berhasil dalam
melaksanakan tugasnya.
4.
Gaya bahasa perbandingan
a.
Asosiasi atau perumpamaan
Asosiasi
yaitu gaya bahasa yang perbandingan terhadap 2 (dua) hal yang maksudnya
berbeda, akan tetapi sengaja dianggap sama. Seperti contohnya: Wajahnya cantik
bagaikan rembulan / Semangatnya seperti api yang berkobar.
b.
Metafora
Metafora yaitu gaya bahasa yang cara
dalam menungkapkan ungkapan kalimatnya dilakukan secara langsung berupa suatu
perbandingan analogis. Pemakaian kata atau kelompok kata dalam kalimat bukanlah
arti yang sesungguhnya, tapi sebagai lukisan yang berdasarkan perbandingan atau
persamaan saja. Seperti contohnya: Bocah kutu buku itu telah menjadi juara
pertama cerdas cermat / Si jago merah sudah menbumi hanguskan komplek perumahan
itu hanya dalam 2 jam / Kembang desa yang sedang mencari pasangan.
c. Personifikasi
Personifikasi yaitu gaya bahasa yang
memberikan karakteristik atau sifat-sifat manusia kepada benda yang tidak
hidup. Jadi benda yang tidak hidup seolah-olah bernyawa dan mempunyai sifat
seperti manusia. Seperti contohnya: Sore hari ini awan meneteskan air mata /
Angin seperti berbisik kepadaku.
d. Alegori
Alegori yaitu gaya bahasa yang
menyatakan dengan menggunakan cara lain lewat kiasan ataupun penggambaran.
Alegori merupakan perbandingan yang berkaitan antara satu dan yang lainnya
didalam kesatuan yang utuh. Alegori biasanya berbentuk suatu cerita yang penuh
dengan simbol-simbol bermuatan bnayk moral.
e. Simile
Simile yaitu gaya bahasa yang
membandingkan suatu hal dengan hal lainnya dengan memakai kata penghubung atau
pembanding pada kalimatnya yang dimana 2 (dua) hal tersebut berbeda akan tetapi
mempunyai karakteristik yang sama. Biasanya kata penghubungnya: seperti,
bagaikan, semisal, seumpama, ibarat dan lain-lain. Seperti contohnya: Kau
“bagaikan” cahaya dalam kegelapan / Mereka “seperti” sepasang kekasih.
f.
Sinekdoke
Sinekdoke
yaitu gaya bahasa yang memakai kata dengan arti yang menunjukan hal lain di
luar kata yang diungkapkan. Sindekdoke terbagi menjadi 2 (dua) macam yang
diantaranya:
- Yang pertama Sinekdoke pars pro tato merupakan gaya bahasa yang menyebutkan sebagian kecil kata dari sesuatu untuk menyatakan secara keseluruhan. Contohnya: Mungkin dia sudah nyaman mempunyai pekerjaan sebagai salles-man dan menawarkan produk yang dijualnya dari “pintu” ke “pintu” / Hari ini akau tidak melihat Muka si Toni (kata “pintu” ke “pintu” mewakili banyak rumah para konsumen dan kata “muka” mewakili sosok Toni).
- Lalu yang kedua Sinekdoke totem pro parte menyebutkan keeluruhan untuk menyatakan sebagian kecil, ini adalah kebalikan dari sinekdoke pars pro tato. Contohnya: Penyanyi perempuan itu sangat terkenal maka tidak heran jika banyak di idolakan oleh para “pemuda” yang ada di penjuru dunia. (kata “pemuda” merupakan semua orang yang masih berusia muda, meskipun pada kenyataanya penyanyi itu tidak di idolakan oleh semua pemuda).
g. Simbolik
Simbolik yaitu merupakan gaya bahasa
yang menggambarkan sesuatu dengan memakai benda, binatang dan juga
tumbuh-tumbuhan sebagai simbol.
h. Metonimia
Metonimia
yaitu gaya bahasa yang memakai ciri, atribut ataupun merk untuk menggambarkan
suatu benda. Seperti contohnya: Dia sedang membuat secangkir kopi kapal api
(merk) untuk ayahnya.
Demikianlah penjelasan
tentang pengertian gaya bahasa atau majas, semoga dapat bermanfaat dan mohon
maaf jika ada kesalahan ataupun kekurangan.
Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar