Jumat, 30 Maret 2012

MAKAN MALAM MENJADI TERAPI YANG TERLUPAKAN

Seberapa sering kita menghabiskan waktu makan malam atau sarapan pagi, disatu meja bersama keluarga? Atau seberapa lama kita menghabiskan waktu libur kita untuk menonton televisi bersama keluarga? Pertanyaan sederhana ini memiliki makna yang tidak sederhana. Ada faktor kedekatan secara psikologi saat anak dan orang tua berkumpul bersama, walau hanya sekedar makan malam ataupun nonton TV di hari libur.
Berawal dari melihat data yang disampaikan oleh Koswara Sonka, Sekretaris Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, menunjukkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Bandung sampai Desember 2010 adalah 5.680 atau 39% dari kasus di Jabar (5.680 Kasus HIV-AIDS Terjadi di Bandung, Harian “GALAMEDIA”, 7/3-2011). Berita ini juga ada kompas.com (Penyakit Menular. Tinggi, Laju HIV-AIDS di Bandung, 6/3-2011).
Fenomena kenakalan remaja, seperti membolos, tawuran, pencurian, seks bebas, narkoba, merupakan suatu penyimpangan perilaku yang dilakukan remaja sehingga mengganggu ketentraman diri sendiri dan orang lain. Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja, faktor dari mereka sendiri, keluarga, masyarakat ataupun dari lingkungan sekolah. Keluarga merupakan faktor pemicu utama karena tidak berfungsinya orang tua sebagai figur teladan bagi anak. Salah satu faktor dari keluarga yaitu kebudayaan bisu dalam keluarga. Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota keluarga.
Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia bersifat primer dan fundamental. Keluarga pada hekekatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orang tuanya (Asfriyati, 2004: 1).
Keluarga adalah sebuah institusi yang terbentuk karena ikatan perkawinan antara sepasang suami istri untuk hidup bersama seia sekata, seiring dan setujuan dalam membina mahligai rumah tangga untuk mencapai keluarga sakinah dalam lindungan dan ridla Allah SWT. Di dalamnya selain ada ayah dan ibu, juga ada anak yang menjadi tanggung jawab orang tuanya. Tanggung jawab orang tuanya tampil dalam bentuk yang bermacam-macam, salah satunya
yaitu tanggung jawab dalam hal pendidikan, maka orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Dalam firman Allah yang berbunyi :
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah sehingga (membuatnya) khawatir atas mereka. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan berkata yang benar. (QS. An Nisaa ayat 9)

Yang dimaksud lemah dalam ayat ini bisa lemah rohani dan kejiwaan. Artinya rapuh secara rohani (kurang pendidikan Islam) sehingga mudah terombang-ambing oleh godaan duniawi, atau rapuh secara psikis sehingga tak cukup punya ketahanan mental menghadapi pancaroba kehidupan. Mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua dalam keluarga. Oleh
karena itu, sesibuk apapun pekerjaan yang harus diselesaikan, meluangkan waktu demi pendidikan anak adalah lebih baik (Djamarah, 2004: 31).
Komunikasi antara orang tua dan anak amat penting. Anak karena keterbatasan kemampuan yang dimilikinya, dapat memiliki persepsi yang salah tentang segala sesuatu yang dialaminya. Anak cenderung menangkap segala sesuatu seperti apa adanya, seperti apa yang dilihat dan dialaminya, tanpa mampu menangkap pesan yang tersembunyi. Itulah salah satu sebab mengapa komunikasi dalam keluarga, antara orang tua dan anak mutlak diperlukan.
Selain itu peranan komunikasi ialah dapat mewujudkan keharmonisan dan kesejahtaraan hubungan sesama anggota keluarga, sehingga di kalangan penyelidik keluarga berpendapat untuk melihat kefungsian keluarga, aspek yang perlu diperhatikan ialah bagaimana komunikasi mempunyai peran dalam sebuah keluarga. Hal tersebut karena komunikasi mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dalam sebuah keluarga (Wahyuningsih, dkk, 2003: 33).
Sebuah keluarga yang ideal adalah sebuah keluarga yang lengkap posis dan peranannya. Ada suami dan istri yang juga berperan sebagai bapak dan ibu bagi anak-anak mereka. Hubungan antar anggota keluarga ini terbentuk karena sebuah komunikasi yang tepat dan sesuai untuk digunakan dalam keluarga itu, dan bisa jadi masing-masing keluarga menerapkan pola komunikasi yang berbeda-beda karena sangat tergantung kebutuhan dan situasi yang melatarinya.
Bagi anak, komunikasi dalam keluarga merupakan pengalaman pertama yang merupakan bekal untuk menempatkan diri dalam masyarakat. Komunikasi ini akan memberikan pengaruh bagi kehidupannya. Komunikasi dalam keluarga dapat pula dipengaruhi oleh pola hubungan antar peran. Hal ini, disebabkan maisng-masing peran yang ada dalam keluarga dilaksanakan melalui komunikasi.
”Remaja”, kata itu mengandung aneka kesan. Ada orang berkata bahwa remaja merupakan kelompok biasa saja, tiada beda dengan kelompok manusia yang lain. Sementara pihak lain menganggap bahwa remaja adalah kelompok orang-orang yang sering menyusahkan orang-orang tua (Mappiare, 1982: 11).
Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan, karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya. Terjadinya perubahan kejiwaan menimbulkan kebingungan di kalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang Barat sebagai periode strum und drang. Sebabnya mereka mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan-aturan dan norma-norma sosial yang berlaku di kalangan masyarakat (Zulkifli, 1992: 63).
Kenakalan remaja bukanlah hal baru, kenakalan remaja pada masa sekarang ini sudah semakin membahayakan. Perkosaan, perampokan, penggunaan obat-obatan terlarang kerap terjadi dimana-mana. Mengenai kenakalan remaja dewasa ini sudah menajdi program pemerintah untuk menanggulanginya. Hal ini sudah terbukti sejak tahun 1971 Pemerintah telah menaruh perhatian yang serius dengan dikeluarkannya Bakolak Inpres No. 6/1971 Pedoman 8, tentang Pola Penanggulangan Kenakalan Remaja.
Permasalahan kenakalan remaja menjadi sebuah penyakit kronik dalam tatanan masyarakat, seolah menjadi sebuah penyakit yang tidak ditemukan obatnya. Permasalahan kenakalan remaja dapat ditanggulangi oleh ilmu komunikasi, yaitu dengan cara aktivasi peran orang tua membentuk sebuah ikatan psikologi dan menghilangkan budaya bisu.
Maka, secara sederhana makan malam bersama keluarga dalam satu meja, atau nonton Tv bersama keluarga pada hari libur merupakan komunikasi nonverbal yang dapat mempengaruhi kedekatan psikologi anak. Jika kedekatan itu sudah muncul, maka anak akan merasa nyaman untuk menyandarkan keluh kesah mereka lebih pada orang tua dibanding dengan rekan sebaya mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar